script async src=httpspagead2.googlesyndication.compageadjsadsbygoogle.jsclient=ca-pub-2532890939753260 crossorigin=anonymousscript DPC PAN PRAGAAN
KEJUJURAN DAN KEIKLASAN - KINI MULAI HILANG DARI KEPRIBADIAN BANGSA INI - HANYA DENGAN SATU CARA-PEMIMPINLAH YANG HARUS MENJADI CONTOH TAULADAN UNTUK MEMPERTAHANKANNYA

Di Pilgub JawaTimur PAN Ajukan Dua Kader Terbaiknya

Di Pilgub JawaTimur PAN Ajukan Dua Kader Terbaiknya

Dinamika politik jelang Pilkada Jawa Timur 2018 mendatang mengerucut kepada dua kandidat calon gubernur yaitu Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa.
Sekretaris Jenderal PAN Eddy Suparno menyatakan pihaknya belum menentukan sikap akan mendukung siapa di antara kedua kandidat tersebut.
Untuk memberikan dukungannya, PAN mengajukan sebuah syarat yaitu agar kadernya digaet sebagai calon wakil gubernur.

"Terlalu dini bagi kami untuk mengatakan lebih cenderung ke Gus Ipul atau Khofifah, tetapi kembali ke syarat yang kami sampaikan, yakni kami akan mendukung siapa yang menggaet kader kami sebagai cawagub. Intinya kami memprioritaskan dukungan kepada kader kami sendiri," tegasnya saat ditemui di Kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Jumat (13/10/2017).
PAN mengajukan dua kader andalannya untuk ikut masuk dalam kontestasi Pilkada Jatim yaitu Bupati Lamongan dua periode H Masfuk dan Bupati Bojonegoro, Suyoto.
Eddy percaya diri peluang kemenangan akan lebih bisa dicapai bila menggandeng kader andalan PAN.
"Kalau salah satu dari dua kandidat terkuat tadi ingin menarik salah satu kader kami baik Masfuk maupun Suyoto maka akan kami dukung," ujarnya.

Jelang Pilkada Jatim PAN Punya Banyak Pintu

Jelang Pilkada Jatim PAN Punya Banyak Pintu

Masfuk Masuk Usulan Cawagub Gus Ipul, begini Respons PAN Jatim

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Jatim mengatakan bahwa peluang koalisi antar partai masih sangat cair.
Pihaknya pun hingga kini masih terbuka terhadap seluruh partai politik, baik yang berada di kubu koalisi pemerintahan, maupun di kubu oposisi.
"PAN hingga kini masih cair. Komunikasi yang kami lakukan ada di dua tingkat, yakni di DPW dan DPP (Dewan Pimpinan Pusat)," ujar Bendahara DPW PAN Jatim, Agus Maimun kepada Salah satu wartawan, Kamis (12/10/2017).
"Dari hasil komunikasi itu, kami akan koordinasikan. Hingga saat ini masih tengah dibahas," lanjutnya.
Masuknya nama Ketua DPW PAN Jatim, Masfuk, dalam rekomendasi yang diusulkan PKB Jatim ke pihak DPP, menurut Agus bukanlah sebuah kejutan.
Sebab, PKB menjadi salah satu partai yang melakukan pembicaraan dengan PAN.
"Dalam pembicaraan ini, kami juga membahas soal sosok wakil gubernur. Kami mengusulkan Ketua DPW kami, Bapak Masfuk," tegas Ketua Fraksi PAN di DPRD Jatim ini.
Apalagi, menurut Agus, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai sosok cagub yang diusung oleh PKB juga merupakan figur potensial yang kemungkinan diusung partainya.
Meskipun ia tak memungkiri, selain Gus Ipul, pihaknya juga mempertimbangkan figur lain, yakni Khofifah Indar Parawansa.
"Gus Ipul dan Ibu Khofifah adalah dua figur yang kemungkinan besar kami usung. Nama ini kemungkinan besar yang akan kami usung," tandasnya.
"Oleh karena itu, apabila nantinya kader PAN yang dipilih, maka kami akan siap. Sebab, itu tak jauh dari proyeksi kami selama ini," tandasnya.

Ketua MPR Sekaligus Ketua Umum PAN Mendorong Orang Tua Mengedepankan Pendidikan Anak-anaknya

Ketua MPR Sekaligus Ketua Umum PAN Mendorong Orang Tua Mengedepankan Pendidikan Anak-anaknya

Selasa, 21 November 2017 | 11:30 WIB
Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa masalah kesenjangan menjadi hal yang krusial di Indonesia. Orang kaya semakin kaya, sementara orang miskin menjadi semakin miskin. Oleh sebab itu, tak heran apabila angka kejahatan meningkat.
"Masyarakat Indonesia banyak yang menganggur. Sementara itu, harga-harga kian tinggi, akhirnya kesejahteraan masyarakat turun. Itulah problem kita," kata Zulkifli ketika memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Ulu Belu, Lampung (20/11/17).
Zulkifli menambahkan bahwa untuk keluar dari masalah tersebut, Indonesia membutuhkan SDM yang berkualitas dari segi pendidikan. Dengan terpenuhinya syarat tersebut, maka negeri ini dapat memiliki daya saing global.
Di era setelah reformasi, menurut Zul, siapa pun bisa menjadi pejabat, menjadi apa pun yang diinginkan asalkan punya keterampilan. Reformasi telah membuat semua menjadi terbuka dan melahirkan iklim persaingan yang ketat. Oleh karena itu, latar belakang ekonomi keluarga bukan lagi faktor utama yang menentukan sejauh mana masa depan seseorang.
"Peluang dan tantangan tersebut adalah yang dihadapi generasi sekarang. Oleh sebab itu, pesan saya pada orangtua agar menyekolahkan anaknya. Bukankah Allah SWT tidak mengubah nasib satu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mengubah terlebih dahulu nasibnya?" kata Zul.
Namun demikian, ilmu yang baik harus diiringi dengan internalisasi akan nilai-nilai luhur kebangsaan. Hanya dengan begitu, masalah ketimpangan sosial bisa diatasi.
Para pendahulu telah menegaskan bahwa bangsa Indonesia ini senasib sepenanggungan. Jika kita sadar akan hal tersebut, menurut Zul, maka ilmu yang dimiliki bukan hanya berguna untuk diri sendiri tetapi juga masyarakat di sekitarnya.
"Kalo ada tetangga yang kesusahan, kita mesti bantu. Itulah ciri khas Indonesia. Saling membantu, gotong royong. Jangan sampai ada saudara kita yang mati kelaparan. Nenek moyang kita sudah mewariskan hal tersebut," tutur Zulkifli. 

Sumber : Disini

Pelantikan Pengurus DPD dan DPC PAN Sumenep, Targetkan 10 Kursi Legislatif

Pelantikan Pengurus DPD dan DPC PAN Se Kab.Sumenep, 2019 Targetkan 10 Kursi Legislatif


Pelaksanaan pelantikan Ketua DPD Sumenep dan Ketua DPC Se Kabupaten Sumenep sukses di laksanakan pada Sabtu (13/05/2017) bertempat di gedung graha adi podai di kota sumenep, yang juga dihadiri langsung oleh ketua DPW Jawa Timur beserta jajarannya

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Sumenep mentargetkan meraih 10 kursi di DPRD setempat.

"Target kami bisa mendapatkan 10 kursi di pemilu legislatif mendatang. Saya kira sangat mungkin, karena saat ini PAN punya 7 kursi. Semoga kita bisa menambah 3 kursi lagi," kata Ketua DPD PAN Sumenep, Badrus Samsi.

Pada Sabtu (13/05/2017) dilakukan pelantikan Pengurus DPC PAN se-Kabupaten Sumenep oleh Ketua DPW PAN Jawa Timur, H. Masfuk.

"Pelantikan bersama ini merupakan langkah awal kami dari niat perjuangan. Kami meminta pada seluruh kader untuk senantiasa memantapkan niat perjuangan memenuhi target 10 kursi," ujarnya.

Menurutnya, dengan memiliki 10 kursi, maka akan mempermudah jalan menuju Sumenep 1 (Bupati: red). Menurutnya, yang paling penting, kader dan pengurus PAN harus berdiri di depan untuk amar ma'ruf nahi munkar.

"Pengurus dan kader PAN harus berpihak pada rakyat. Yang ada di kursi legislatif, juga harus mendukung kebijakan pemerintah, tapi hanya kebijakan yang berpihak pada rakyat," tandasnya.

Sementara Ketua DPW PAN Jawa Timur, H. Masfuk meyakini, target meraih 10 kursi untuk PAN Sumenep bukan sesuatu yang tidak mungkin.

"Sekarang sudah 7 kursi. Tinggal menambah 3 kursi. Ini bukan sesuatu yang mustahil untuk PAN Sumenep," ujarnya.

Ia meminta agar pengurus PAN tidak hanya menjadi pengurus, tetapi aktifis. Aktif mengurus masyarakat dan membesarkan partai. 

"Kader dan pengurus PAN harus membela rakyat. Kalau pemerintah kurang memperhatikan rakyat, maka PAN harus di garda terdepan untuk mengkritis," tandasnya.

DPD PAN Sumenep Target 10 Kursi Pemilu 2019

Sumenep – Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional (DPD PAN) Kabupaten Sumenep menargetkan 10 kursi parleman pada Pemilu Legeslatif 2019. Target ini cukup realistis mengingat kinerja PAN yang cukup baik dan bisa diterima masyarakat Sumenep.



Pada Pemilu 1999 PAN Sumenep memperoleh 2 kursi dan Pemilu 2009 suara pemilih mengalami kenaikan sehingga memperoleh 6 kursi. Bahkan, pada Pemilu 2014 memperoleh 7 kursi,” kata Badrus Samsi, Ketua DPD PAN Kabupaten Sumenep, saat dihubungi, Selasa (21/8).
Menurut pria kelahiran Sapeken, Sumenep, 5 Mei 1965 ini, meningkatnya suara PAN dari tahun ke tahun karena kinerja politik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah. PAN Sumenep hadir memberikan pendampingan dan pemberdayaan politik secara ril.
“Jadi sangat wajar apabila PAN Sumenep menargetkan 10 kursi di DPRD Kabupaten Sumenep. Filosofi kami bergerak pelan tapi pasti,” ujar sosok yang biasa dipanggil Badrus ini.
Salah satu kekutan politik PAN di Sumenep kata Badrus, adalah membangun infrastruktur partai yang solid dan sistematik. Dengan teori inilah kader dan simpatisan partai berjalan secara struktur dan massif.
“Lihat saja pada Pemilu 1999 kita gagal menyumbangkan kursi DPRD Propinsi Jawa Timur dan DPR RI. Namun dalam waktu Pemilu 2004,2009 dan 2014, kami mampu menyumbangkan satu kursi di DPRD Jawa Timur dan satu kursi di DPR RI. Insya Allah kami mampu mempertahankannya,” jelas Badrus dengan lugas.
Mantan Mahasiswa Fakultas Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN) dan Mahasiswa Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Indonesia (UII) tahun 1984-1987 ini mengatakan, PAN akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat melalui program-program padat karya dan kewirausahaan. Sehingga lewat program itulah keberadaan partai bisa diterima dan mendapat dukungan luas.
“Sekarang masyarakat sudah cerdas dan tak bisa dibodohi lagi. Mereka bisa memilah dan memilih partai mana yang  menawarkan fakta dan hanya mimpi. Masyarakat akan maju bersama PAN dan berjuang bersama PAN,” tandas mantan aktivis HMI Komisariat Hukum UII Jogjakarta itu.
Terakhir kata Badrus, PAN Sumenep pada bulan September 2017 mendatang akan melakukan penjaringan dan penyaringan calon Anggota Legeslatif (Caleg). Penetapan Caleg lebih awal ini agar setiap caleg dan infrastruktur partai bekerja lebih awal dan lebih maksimal.
“Persiapan Pemilu 2019 sudah kami rekrut tokoh dan figur yang berpengaruh di masyarakat. Selain itu, melibatkan pengurus dan kader partai untuk menjadi caleg yang diterima masyarakat. Setiap kader tentunya siap memenangkan PAN Sumenep 2019,” terang Badrus dengan nada optimis.



PAN Optimis Raih Suara Terbanyak di 2014

Jelang pesta demokrasi 2014 mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi menetapkan 12 partai nasional untuk mengikuti pemilihan umum 2014 dan 3 partai lokal Aceh. Adapun 12 partai nasional adalah Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
 
 
Ketetapan ini secara langsung membawa dampak pada sejumlah partai politik (parpol) untuk mempromosikan diri agar dapat memenangkan kompetisi baik yang dilakukan kader partai maupun  parpolnya dalam mengusung calon yang digadang-gadang akan mengantikan tongkat kepemimpinan SBY. Untuk meraih impian tersebut, penulis akui tak semudah membalikan telapak tangan. Seperti yang dilakukan Partai Amanat Nasional (PAN) yang telah menargetkan perolehan suara pada Pemilihan Umum 2014 di angka 10 persen. Dalam pernyatannya Ketua Dewan Pimpinan Pusat PAN Bima Arya,  mengatakan bahwa PAN telah meargetkan 56 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Guna mencapai target tersebut, menurutnya PAN telah menargetkan masing-masing daerah pemilihan (dapil) bisa mendapatkan minimal satu kursi di DPR. Sehingga nantinya, akan memiliki 77 kursi di DPR RI.
  
Penilaian penulis, Jika dilihat dari dukungan yang begitu deras diberikan kepada Partai Berlambang Matahari terbit ini, dapat saja terwujud.  Namun bukan berarti dengan mudahnya PAN melenggang bebas memasuki kemenangan. Hambatan pun mengintai pencapaian target yang telah didengung-dengungkan. Meski saat ini PAN telah diperkuat dengan adanya kehadiran beberapa partai politik yang dinyatakan tidak lolos menggambungkan diri dengan PAN, di antaranya Partai Serikat Rakyat Independen (SRI), Partai Kedaulatan, Partai Republik, Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI), Partai Buruh, Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Partai Karya Republik (Pakar), Partai Kongres, Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), dan Nasional Republik (Nasrep).
  
Bukan itu saja, kehadiran Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam mendukung Hatta Rajasa di 2014 pun, menjadi catatan tersendiri. PAN selama ini merupakan sebuah partai Islam terbesar di Indonesia, partai dengan pemilih mayoritas kalangan muslim dan Muhammadiyah, namun sesuai dengan perkembangan zaman PAN kini telah menyatakan dirinya sebagai salah satu partai nasionalis. sementara PDS adalah partai dengan mayoritas pemilih kalangan kristian.
  
Bahkan ketika membuka Indonesia Young Leader Forum 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa dirinya bukan calon presiden 2014. Selain itu, ia juga menekankan, anak dan isterinya juga takkan mencalonkan diri di pilpres mendatang. Pernyataan ini mengandung makna tersendiri bagi masa depan PAN.
  
Namun jika melirik kebelakang, fakta telah menunjukan pada pemilu 1999 PAN hanya meraih dukungan 7,12%. kemudian pada pemilu 2004 hanya meraih 6,44% dan terus mengalami penurunan hingga pada  pemilu 2009, hanya mampu meraih 6,01%.
  
Fenomena penurunan yang dihadapi partai berlambang matahari ini dipastikan disebabkan berubahnya haluan partai tersebut. Seperti kita ketahui, di awal pendiriannya tahun 1998 silam, sejumlah tokoh yang cukup terkenal dinegeri ini menjadi bagian dari partai tersebut. Sebut saja, Amien Rais, Gunawan Muhammad, Faisal Basri, Bara Hasibuan, Indra J Piliang dan tokoh hebat lainnya. Selain tokoh yang teruji secara moralitas dan integritas, kalangan PAN kala itu identik dengan tokoh akademik cerdik cendekia
  
Kehebatan PAN akhirnya sirnah ketika kepemimpinan Soetrisno Bachir, pengusaha batik asal Pekalongan, wajah PAN berubah drastis. PAN yang mulanya intim dengan Muhammadiyah, saat itu mengalami hubungan  tak harmonis.
  
Keterpurukan partai berlambang matahari tersebut semakin menghawatirkan. PAN tak identik lagi dengan kesan intelektual seperti awal pendiriannya. Bahkan, menjelang Pemilu 2009, PAN pun mendapat plesetan tak sedap dengan akronim Partai Artis Nasional (PAN). Itu karena partai tersebut, memasukkan artis secara massal di daftar caleg PAN. Kenyataan ini menunjukan bahwa kemampuan PAN dalam memberikan keyakinan kepada masyarakat sangat menentukan masa depan partai berlambang matahari terbit ini. Apa lagi kompetisi 2014 ini terdiri dari kadidat yang syarat akan pengalaman dan didukung oleh partai-partai besar.
  
PAN yang selama ini identik dengan Muhammadiyah, ternyata untuk mengusung Hatta 2014,  ternyata tidak mendapatkan dukungan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, dengan tegas membantah rumor dukungan Muhammadiyah terhadap Hatta Rajasa yang maju sebagai calon Presiden 2014 mendatang, alasannya organisasi masyarakat Islam yang ia pimpin tidak memiliki hubungan afiliasi dengan partai politik.
  
Meski partai yang terlahir di era reformasi ini tercatat oleh  Transparency International Indonesia (TII) bekerja sama dengan Komisi Informasi Pusat (KIP) sebagai partai yang transparans terkait permasalahan pendanaan partai politik dengan score di atas 3,00 tak menjadi jaminan partai ini mampu mencapai harapan yang diimpikan.
  
Kemampuan kader PAN dalam mengkomunikasikan kepentingan partai menuju 2014, penilaian penulis merupakan ujung tombak penentu dalam memenangkan kompetisi. Sangat jelas, komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik yang merupakan proses penyampaian pesan-pesan.

Penulis mengakui keberadaan komunikator Politik pada dasarnya adalah syarat yang mutlak. Karena pada hakekatnya semua orang yang berkomunikasi tentang politik, mulai dari obrolan warung kopi hingga sidang parlemen untuk membahas konstitusi negara. Dapat dipastikan yang menjadi komunikator utama dalam pencapaian suara PAN adalah para pengurus partai pan dan kader akar rumput dan harus mampu  aktif dalam menciptakan pesan politik untuk kepentingan politis PAN. Sangat jelas pada akhirnya kemampuan PAN dalam menyampaikan pesan politik kepada masyarakat luas, merupakan penentu yang paling mutlak dalam meraih kemenangan di pemilu mendatang. Jangan sampai karena target yang digaung-gaungkan, partai ini terlena dan hanya mampu menjadi juru kunci semata. Dapat dipastikan jika hal ini terjadi PAN akan terlikuidasi pada pemilu selanjutnya.

Kebanyakan Partai Tak Penuhi Syarat Kepengurusan

Jakarta - Kesibukan para komisioner Komisi Pemilihan Umum kian meningkat akhir-akhir ini. Bukan cuma karena lembaga itu sedang menggelar verifikasi faktual partai politik peserta pemilu. Kesibukan mereka juga bertambah karena harus meladeni gelombang protes dari 18 partai politik yang tidak lolos verifikasi administrasi. Ke-18 partai itu bahkan membentuk aliansi, melaporkan komisioner KPU ke Badan Pengawas Pemilu, hingga ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu.


Partai-partai yang tak memenuhi syarat itu juga menuding KPU diintervensi partai-partai besar agar tak meloloskan mereka. Hasil verifikasi administrasi pun terancam digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

Tapi, Ketua KPU Husni Kamil Manik menanggapi santai. Komisioner KPU, kata dia, adalah jabatan profesional. Husni sendiri tak tertarik untuk bergabung ke partai politik setelah tugasnya sebagai komisioner berakhir. "Habis masa jabatan, saya ingin menjadi pedagang bakso," ujarnya sembari bercanda.

Di tengah kesibukan yang sangat padat, ia meluangkan waktunya menerima wawancara Pasti Liberti dan Raisya Maharani dari Harian Detik bersama harian Rakyat Merdeka, Kamis petang pekan lalu. Siangnya, Husni baru kembali dari Palembang, Sumatera Selatan, dan langsung memimpin rapat pembekalan verifikasi faktual. Agar rileks, wawancara dilakukan di kursi santai di balkon ruang kerjanya. Setelah menyeruput secangkir teh, Husni menjawab semua tudingan yang diarahkan ke lembaganya itu.

Bagaimana mekanisme pengambilan keputusan saat melakukan verifikasi administrasi?

Kita sangat hati- hati mengambil keputusan lolos tidaknya partai saat rapat pleno. Komisioner dan tim verifikator melakukan multiple kroscek. Kita bandingkan 2-3 dokumen untuk memastikan tak ada data terselip. Kalau kurang yakin, kita hadirkan data dan tanya ke tim verifikator. Jika belum yakin lagi, kita periksa ulang. Tidak yakin juga, kita ambil datanya ke gudang data. Komisioner juga mengawasi tim verifikator agar tak salah penilaian.


Proses verifikasi administrasi sempat gaduh karena penggunaan Sipol (Sistem Informasi Partai Politik). Bagaimana mekanisme Sipol ini?

Tim verifikator memasukkan data partai dalam format tabulasi dalam aplikasi Microsoft Excel oleh tim verifikator. Jika hanya mengandalkan Excel, kami susah menyimpulkan, karena saking banyaknya data. Kita juga kroscek data antar partai, nama kepengurusan atau keanggotaan. Itu tak bisa dilakukan secara menyeluruh dan jika dilakukan manual, perlu waktu lama. Sipol dibutuhkan untuk itu (efisiensi). Sipol juga bisa menyimpan data cadangan.

Lalu, apa keputusan KPU setelah Sipol diprotes DPR?

Mereka (DPR) tak meminta (penggunaan) Sipol diganti, tapi menyoroti kerjasama (KPU) dengan lembaga asing yaitu International Foundation for Electoral Systems (IFES). Kesimpulan penggunaan Sipol adalah, KPU harus mengembangkan lagi (kinerja) Sipol dan harus mensosialisasikan sejak awal.

Partai juga mendesak kerjasama dengan IFES distop karena tak sesuai undang-undang. Memang, hanya IFES yang bisa membuat sistem semacam itu?

Saat pembicaraan pertama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), ada opsi lain yakni ITB (Institut Teknik Bandung). Tetapi ITB hanya mampu mengakomodir Silog (Sistem Informasi Logistik), yang sekarang tengah dikerjakan. Namun BPPT menyatakan tak bisa mempersiapkan Sipol karena waktu mepet. Anggaran pun belum ada untuk KPU. Sementara, IFES menyanggupi untuk menyediakan tenaga progammer yang mereka gaji untuk membuat Sipol.

Kemudian, kami sampaikan kebutuhan Sipol seperti apa dan dibuat oleh tenaga IFES. Selebihnya, IFES hanya mentransfer teknologi saja. Sementara yang menjadi operator data itu dari Indonesia. Tim verifikator juga berasal dari KPU yang digaji pemerintah.

Jadi bukan karena Indonesia tak bisa membuat sistem informasi pemilu?

Iya, bukan karena dalam negeri tidak bisa. Excel kan buatan luar negeri juga, tapi tetap kita pakai juga kan?

Apa imbal balik dari bantuan IFES tersebut?

Tidak ada. Kami melihat IFES sebagai lembaga perbaikan sistem pemilu yang berkompetensi, dan berpengalaman di seluruh dunia. Itu juga tidak tabu atau dilarang. IFES tidak mencampuri urusan kita. Data disimpan di pusat data KPU. Kalaupun (kemampuan) Sipol down, tak perlu khawatir, karena itu hanya alat pembantu pengolah data. Tapi, data awal partai kan sudah dimasukkan oleh verifikator dalam Excel.

Ada berapa orang yang dipekerjakan untuk merancang Sipol?

Sekitar empat orang. Mereka berkantor di kantor IFES dan semuanya pembiayaan tenaga ahli itu ditanggung IFES.

Apa jaminannya tenaga IFES sebagai pencipta sistem, tidak mengakses data tanpa sepengetahuan KPU?

Ya, hmm.. kita kan punya data asli, data dasar dalam excel yang bisa kita bandingkan untuk mengecek kebenaran kinerja tenaga IFES tersebut. Tak terlalu sulit memastikan IFES memenuhi janjinya untuk menjaga otoritas kita sebagai pengelola data.

Tapi Sipol dituding menghambat verifikasi administrasi dan pengumuman partai yang lolos jadi diundur...

Justru karena (penggunaan Sipol) tidak maksimal (pengumuman diundur). Kalau parpol input datanya maksimal, keputusan bisa diambil dengan mudah. Tidak semua partai, 100 persen bisa memasukkan data ke Sipol, ada juga yang setengah Sipol dan offline, bahkan ada partai yang benar-benar via offline. Parpol yang kecewa menuding data di Sipol tak sesuai input awal, padahal, itu hasil akhir penghitungan Sipol mengenai data anggota sesungguhnya. Sipol itu kan bisa menyisihkan kegandaan data, ketidaklengkapan data.

Jadi karena ketidakmampuan parpol menggunakan Sipol?

Saya tidak mau mengatakan itu. Yang penting, penilaian data Excel itu kan hasil penilaian data fisik yang dilakukan tim verifikator.

Lalu kenapa pengumuman verifikasi diundur, dari semula tanggal 22 Oktober, ke 25 Oktober, lalu menjadi 28 Oktober 2012?

Sesuai putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5 Tahun 2012, KPU boleh mengubah jadwal verifikasi jika ada obyek yang menyebabkan verifikasi berubah keseluruhan atau konsekuensi hukum yang terjadi atas keputusan itu. Kita punya dasar hukum untuk mengubah jadwal pengumuman verifikasi.

Bagaimana proses seleksi untuk tenaga verifikator KPU?

Mereka diseleksi ketat, harus mengisi absen dan dibiayai oleh APBN. Kita upayakan peraturan ketat seperti itu, sebenarnya agar tak ada kesan ketertutupan dari masyarakat. Tetapi yang terjadi KPU dikesankan tertutup, padahal tidak. Pers dan Bawaslu bisa melihat langsung proses pengolahan akhir verifikasi data. Kita pantau juga dengan kamera CCTV. KPU juga tak mau melansir keberlangsungan data-data partai karena bisa menjadi sumber konflik kepentingan.

Bagaimana KPU memastikan KTA (Kartu Tanda Anggota) partai dicermati oleh verifikator?

Pemeriksaan KTA kan kabupaten/kota, jadi jumlahnya tak begitu banyak. Hanya sekitar ratusan dan paling banyak ribuan.

Diperiksa seluruhnya?

Harusnya iya..

Harusnya iya? Anda tak yakin?

Ini kan (tingkat) kabupaten/kota, kalau tingkat perbandingannya kita yakin ini tercermati.

Partai yang tidak lolos verifikasi menuding KPU diintervensi partai-partai besar. Benarkah?

Tidak ada itu. Lagipula, yang mau menekan partai yang mana? Semuanya steril kok. KPU sangat otonom dalam mengambil keputusan.

Ada juga tudingan KPU mengadakan pertemuan di luar kantor KPU dengan sejumlah partai besar menjelang pengumuman verifikasi...

Pertemuan di mana? Rumah saya? Wah.. kalau ada partai besar bertemu saya di rumah, berarti rumah saya besar dong.. tidak ada itu. Rumah saya kan di kompleks, rumah dinas.

Bagaimana rapor partai-partai yang diverifikasi?

Kebanyakan partai tidak memenuhi kepengurusan di daerah dan ini saling mempengaruhi. Misalnya di kecamatan tak memenuhi syarat, maka kabupatennya tentu tidak memenuhi syarat. Kalau jumlah (kepengurusan) di kabupaten/kota itu tidak mencapai 75 persen, provinsinya pasti juga bermasalah. Setiap elemen di bawah mempengaruhi atasnya. Kekurangan keterwakilan perempuan juga ditemukan tetapi tak terlalu berat. Kemudian juga soal buku rekening, ada partai yang memberikan rekening korannya, slip setoran, bukan bukunya. Ada lagi perjanjian sewa kantor yang tak sesuai persyaratan...

Ada data ganda?

Itu akan kita buktikan di verifikasi faktual, apakah ada nama yang sama atau tidak. Kan bisa saja nama sama tetapi orangnya berbeda. Kalau hanya mengandalkan administrasi, memutuskan partai tak lolos karena ada nama anggota sama kan dzalim juga namanya.

Bagaimana soal tuntutan untuk mengkonfrontir data dan jika PTUN mengabulkan gugatan parpol yang tidak lolos?

Itu dua hal berbeda, satu konfrontir data dan yang kedua adalah keputusan pengadilan. Kalau putusan pengadilan kita tindaklanjuti. Keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau inkrah. Kalau perintah pengadilan harus diverifikasi ulang, ya kita verifikasi ulang. Tetapi jika tidak, ya tidak.

Sudah siapkan tim advokasi?

Kesekjenan KPU memiliki biro hukum, tetapi kita belum menyiapkan secara khusus untuk menghadapi gugatan itu. Kita lihat respon PTUN apakah menerima pendaftaran itu atau tidak, baru kita putuskan apakah membutuhkan bantuan hukum atau tidak.

Saat ini KPU sedang menggelar verifikasi faktual?

Iya, sedang berjalan. Tanggal 30 (Oktober) sudah mulai jalan, masing-masing sudah mendapat informasi dari partainya di daerah. Sebenarnya kalau partai itu mau menilai sendiri, bisa mengambil kesimpulan apakah partainya lolos atau tidak. Karena kesiapan itu mereka yang tahu dan buat. KPU kan hanya administratif saja.

Anda bisa memprediksi partai-partai yang bakal lolos jadi peserta pemilu?

Kita bukan lembaga survei yang memprediksi hasil survei. Itu persoalan etika, KPU tak boleh menyampaikan prediksi. Seperti hakim yang tak boleh menyampaikan ke mana perkara ini, sebelum memutuskan. Itulah mengapa KPU terkesan tertutup, karena kita tidak mau mengumumkan perkembangan harian partai. Kalau diumumkan, bisa stress partainya. Respon publik juga tidak baik. Bisa memotori perang urat syaraf yang melibatkan KPU karena sumber infonya dari KPU.

Kami juga tidak mau menjawab semua tudingan-tudingan partai, kenapa? Karena akan membuat kegaduhan tersendiri. Kami kan tahu datanya, bisa menduga, tetapi dugaan milik pribadi. Dan saya tidak boleh menanyakan penilaian pribadi komisioner lainnya. Tujuannya membuat partai nyaman. Tapi kalau mereka tanya kami dalam masa perbaikan, kita jawab.

Jadi, partai yang ikut pemilu periode lalu belum tentu lolos kali ini?

Iya, tak ada jaminan. Pemilu 2009 masa lalu, dan fakta sekarang adalah masa kini. Dulu kita usia berapa, sekarang kita bertambah.
 
Support : Creating Website | A.Zaini Bakry | Mas Bambang
Copyright © 2011. DPC PAN PRAGAAN - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger